
Kamu
tahu apa itu cinta? Banyak sekali hal yang ingin aku tumpah ruahkan ke dalam
tulisan tentang seluk beluknya. Cinta. Berawal dari kicauan manis di twitter
itu. “CINTA” adalah kata yang ditulis
oleh Dimas dalam kicauannya di twitter beberapa waktu yang lalu. Tak pelak hal
itu menimbulkan tanya besar dalam benakku. Siapakah gerangan yang dimaksud ?
mengapa kata itu sama dengan namaku? Rasa penasaran itu semakin mencuat dan
pada akhirnya rasa penasaran itu menuntunku untuk ngepoin profilnya. Avanya tak memperlihatkan wajahnya, hanya kata –
kata mutiara saja yang ia pajang. Lalu kubaca profil diri dibawah avanya,
disana tertulis SMA Cempaka. Sontak aku kaget, bukankah itu adalah nama
almamater SMA ku. Itu berarti dia bersekolah di sekolah yang sama denganku.
Tapi, apa tujuannya menulis namaku dalam kicauannya ? Siapa sebenarnya dia ?
apa dia adik kelas, atau malah kakak kelasku yang nge-fans sama aku ? ahh rasanya tak mungkin. Tapii..ah sudahlah.
Saat
itu aku tengah duduk di bangku SMA kelas XI. Beruntungnya, aku termasuk kedalam
kategori anak IPA. So, aku bersyukur banget karena anak IPA itu dikenal dengan
pintar dan rajinnya. Yah, walaupun aku nggak pinter – pinter amat sih, tapi
lumayan lah kalau urusan hitung menghitung. Lumayan nggak jago maksudnya.
Lanjut lagi, rasa penasaranku tentang siapa dia berujung pada obrolan seru
teman semejaku sekaligus sahabatku dengan penghuni bangku sebelah. Dalam
obrolannya, aku mendengar mereka menyebut – nyebut nama Dimas. Tak berpikir
panjang, aku langsung nimbrung pembicaraan mereka. Nah dari sini, aku akhirnya
tahu siapa Dimas si anak misterius itu, yang tiba – tiba nongol di timeline
dengan kicauannya yang berbau namaku, terlebih lagi dia juga followersku.
Ternyata dia itu anak IPS yang juga satu angkatan denganku. Dia adalah ketua
sebuah organisasi di sekolahku, MPK. Sebuah organisasi siswa tertinggi
disekolahku dan dihandle sekaligus berhubungan
langsung dengan Wakasek bidang Kesiswaan. Organisasi ini tepat berada diatas
OSIS, yang salah satu tugasnya menyeleksi anggota – anggota OSIS juga.
Seketika
dijelasin sama sahabatku, Chika aku kaget bukan kepalang. “Nah lhoh, orang
setenar itu aku bisa – bisanya nggak kenal ? Ya ampun Nim, kamu kemana aja ?”
batinku dalam hati. Bahkan Chika menunjukkan fotonya Dimas di dalam kalender
sekolah yang terpampang di dinding kelas. Seniat itu Chika nunjukinnya saking
dia gedheg banget sama aku, karena
dari dulu sikap cuekku terus – terusan terpelihara. Tapi tetep aja, walaupun
seribu foto ia perlihatkan, aku pun tak juga mengenali wajahnya yang katanya
keren itu. “Lo tu kemana aja sih Nim selama ini, dua tahun di SMA ini masak
sama ketua organisasi paling ngetop di sekolah lu sendiri aja nggak tau. Aduuh
kebangetan banget sih lu” omel Chika kepadaku. Dia bicara panjang lebar
menjelaskan tentang kiprah seorang Dimas setahun belakangan ini di sekolahan,
dan aku pun hanya mengangguk seakan nggak percaya karena aku tak pernah
bertemu, melihat, bahkan mendengar suaranya sekali pun belum.
Setelah
si Chika menjelaskan panjang lebar, aku pun menceritakan kepada Chika tentang
kicauan seorang Dimas di twitter tadi malam. Chika terperanjat kaget, karena
pagi ini Chika abis ngepoin akun twitter Dimas, tapi tak ditemukan kicauan
seperti yang kumaksudkan. Kemudian aku memperlihatkan hasil screenshotan di hp-ku, baru Chika
percaya dengan kata - kataku. Mungkin karena si Dimas berkicau tengah malam,
makanya tak banyak yang tahu. Dan belum lagi, entah kenapa Dimas langsung
menghapus cuitannya itu. Chika pun langsung mengejekku dengan kata yang
memojokkanku, menjodoh – jodohkan aku dengan Dimas. Belum sempat aku membela
diri, Pak Bernard guru Fisika kami datang dikelas. Anak – anak kelas kami memang
sangat frontal sekali ketika menyebut guru – guru kami, padahal jika didepan
mereka kita tidak pernah berani memanggil mereka dengan sebutan yang kami buat.
Ahh.. dasar musim pancarobanya anak kelas XI ya maklum aja.
Hari
demi hari berganti, aku masih saja penasaran dengan kicauan itu. Kuberanikan
diriku untuk nge-dm Dimas dengan
beberapa alasan yang telah kupersiapkan. Dia pun membalas dm ku dengan ramah, dan dengan bahasa yang seperti kita sudah
saling akrab satu dengan lainnya. Sejak saat itu, semua berubah perlahan. Tiada
hari tanpa chatting-an dengannya. Dari bangun tidur sampai tidur kembali rasa –
rasanya selalu kusempatkan untuk berkomunikasi dengannya. Dan itu membuatku
merasa nyaman, kami dekat walau hanya lewat socmed. Dia memberi perhatian lebih,
aku pun juga sebaliknya. Tak dirasa, ujian akhir semester genap telah di depan
mata. Walaupun kami berdua berbeda jurusan, tapi ada beberapa mapel yang sama
gurunya, so kita manfaatin buat bertukar pikiran, kisi – kisi dan sebagainya
dan kurasa itu arah pertemanan yang positif.
Kelas
XI telah kami lewati dengan sempurna, dan kami dinyatakan naik kelas XII.
Dimana tingkatan paling tinggi di SMA, bukan tempat siswa untuk bermain – main
lagi, waktunya untuk fokus belajar karena ujian nasional menanti didepan mata.
Kami terus menyemangati satu sama lain. Ada satu yang unik diantara kami berdua,
kami tidak pernah saling berbicara satu sama lain. Ketika bertemu, kami hanya
tersenyum malu layaknya insan yang tak saling mengenal. Entah apa yang
melatarbelakangi itu bisa terjadi, tapi memang sifat pemalu kami cukup besar,
saling beradu gengsi untuk menyapa duluan. Hingga pada suatu hari, Dimas datang
ke kelasku untuk meinjam baju ekstrakurikuler ke teman sekelasku. Iya, saat itu
aku baru ingat Dimas adalah anak PKS, salah satu ekstrakurikuler bidang
keamanan yang sangat populer di sekolah kami. Dan teman sekelasku ada beberapa
yang ikut gabung, so mereka kenal baik dengan Dimas. Saat kekelas, kami pun tak
saling bicara namun saling menatap. Aku yang berdiri di depan jendela dalam
kelas, sedangkan Dimas berada di luar kelas berjalan menuruni tangga untuk
kembali ke kelasnya yang jaraknya lumayan jauh dari kelas IPA. Dan bola mata
itu, seolah - olah milikku, telah
berhasil meluluh lantahkan kerajaan hatiku. Melting
bikin baper, serius. Entah
sekarang Dimas masih ingat atau enggak, yang jelas sampai detik ini, aku masih
ingat betul tatapan itu.
Suatu
hari saat bel istirahat kedua tiba, itu tandanya waktu dzuhur telah tiba. Dengan
diiringi canda tawa aku dan teman – teman kelasku bergegas menuju masjid untuk
melaksanakan sholat dzuhur. Saat itu aku sedang berwudu, aku lihat Dimas datang
dari kelasnya melewati jalan dekat tempat berwudu khusus perempuan. Dia duduk
di papan dekat jalan itu, dan entah betul atau salah, imajinasi atau sungguhan
dia kembali menengok ke arahku dan menatapku. Ya ampuun bikinn wuduku nggak
khusyuk. Ya, hampir setiap hari aku selalu bertemu dengannya ketika sholat
dzuhur di masjid sekolah. Dan saat itu pula vitamin semangat dalam tubuh seakan
bertambah. Semangat belajar, semangat ngerjain PR, sampai sholat dzuhur di
masjid pun juga makin semangat hanya karena Dimas. Apalagi saat upacara bendera
hari Senin tiba, aku selalu ingin ambil barisan terdepan demi melihat lingkar
senyum diwajahnya. Dimas selalu ambil barisan paling depan ketika upacara,
tanda kalau dia ingin menjadi seorang pemimpin sejati. Sempat dia bercerita
kepadaku melalui pesan socmednya, bahwa dia bercita – cita menjadi seorang
polisi, sang abdi negara. Impian itu sepertinya telah ia imajinasikan sejak
kecil, sampai – sampai sampul fb nya
pun foto kecilnya yang berseragam layaknya polisi.
Hingga
pada suatu hari yang cerah, aku membaca cuitan akun Nadia dimana cuitan itu
atas bawah dengan Dimas dengan isi yang sama “selamat pagi” lengkap dengan emot mawar merah. Aku pun terkejut, dan
sejak saat itu, komunikasiku dengan Dimas terputus. Entah karena kicauan itu
atau bukan, yang jelas kami tidak saling menghubungi lagi satu sama lain. Hal
itu membuatku merasa tercekik, memang hanya sebatas teman, tapi jika lama tak
berkomunikasi rasanya sakit karena tak saling tahu kabar. Sampai pada waktunya,
aku memberanikan diriku bertanya pada Nadia, sebenarnya apa yang terjadi. Nadia
bilang kalau dia memang tengah dekat dengan Dimas, dan Dimas menceritakan
semuanya tentang aku kepadanya. Dan sampai saat ini pun aku juga tak pernah
tahu apa maksud Dimas melakuakn semua hal itu. Aku tak pernah merasa punya
salah tapi aku dikecewakan. Dan pada akhirnya aku memohon maaf kepada Nadia
karena telah menyakitinya, atas ketidaktahuanku. BERSAMBUNG...???
Komentar
Posting Komentar